Januari 25, 2009

“Obamalek” dan “Obamateks”

Dikutip dari Kompas Cetak Sabtu, 24 Januari 2009 | 01:24 WIB

Oleh P ARI SUBAGYO

”From language perspective, Obama is a great speaker. I do not like a lot of his political views, but I do like his speaking”.

Demikian seorang warga AS menulis di blog-nya saat Obama dan McCain masih bersaing sengit merebut hati warga AS.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat (4/11/2008) juga berkat penampilan berbahasa (language performance)-nya. Obama memang fenomenal. Obama adalah fenomena bahasa.

Sebagai fenomena bahasa, Obama telah menjadi akar istilah-istilah baru, seperti obamania, obamamentum, obamacize, obamanomics, dan obamanation. Selain itu, juga muncul fenomena ”obamalek” dan ”obamateks”. Keduanya telah menyumbang bagi kemenangan Obama.

”Obamalek”

”Obamalek” atau ragam bahasa Obama ditandai struktur dan logat bahasa Inggris standar, tetapi terdengar lebih ”berat”. Maklum, Obama keturunan Afrika. Organ bicaranya khas sehingga suaranya bertipe bariton, tetapi enak didengar.

”Obamalek” berbeda dari variasi yang disebut Wardhaugh (An Introduction to Sociolinguistics, 1992) sebagai Black English (BE), Black English Vernacular (BEV), atau Nonstandard Negro English (NNE).

Menurut Stewart, Labov, Dillard, dan Rickford, BE, BEV, atau NNE banyak melanggar kaidah bahasa Inggris standar. Maka, penuturnya layak mengalami kesialan-kesialan (disadvantages) dalam pergaulan maupun pendidikan. Keamerikaan mereka disangsikan.

Namun, ”obamalek” justru telah mengukuhkan keamerikaan Obama, sekaligus orisinalitasnya sebagai pewaris anatomi organ bicara Afrika. Apalagi Obama seorang Afro-Amerika. Pengasuhan kakek-nenek Amerikanya, Stanley Armour Dunham dan Madelyn Payne, tentu amat mewarnai bahasa Inggris Obama. Atau, secara alamiah, bahasa Inggris black American generasi Obama jauh lebih standar dibandingkan dengan 40-an tahun lalu.

Warga AS yang menulis di blog itu menambahkan, ”Menurut saya, Obama memiliki kemampuan menggunakan bahasa, sesuai kelompok pemilih yang disasarnya”. Dari ”obamalek” dia mendapat pelajaran: ”Orang yang kehilangan ketenangan, habislah dia! Jika Anda mampu menjaga ketenangan saat bicara, Anda dapat merangkul banyak orang! Jika Anda mampu menggunakan bahasa sederhana ’untuk mereka’ (to people) daripada sekadar ’kepada mereka’ (at people), Anda akan dapat memengaruhi mereka!”

Jadi, pesona ”obamalek” terletak pada larasnya yang santun, tenang, tulus, sahaja, dan berdaya sentuh. Dalam berbagai pidato maupun debat, ”obamalek” selalu memperlihatkan nuansa santun, tenang, tulus, sahaja, dan daya sentuh. ”Obamalek” jauh dari kesan emosional, tetapi mampu menggugah inspirasi dan empati. ”Obamalek” memadukan visi yang jelas, pemahaman teori yang mantap, wawasan praktis yang lengkap, dan kematangan seorang senator—senatum (Latin) berarti ’matang’.

”Obamalek” tidak ”asbun” (asal bunyi) atau ”toni” (Jawa: waton muni, asal bicara), tetapi memadukan estetika bicara beserta kecerdasan isi. ”Obamalek” mematuhi rambu komunikasi bahasa: ”Cara mengatakan sama pentingnya dengan apa yang dikatakan”.

”Obamateks”

Blaustein dan Zangrando (eds.) dalam Civil Rights and the Black American: A Documentary History (1970) secara lengkap mengabadikan perjalanan panjang kaum kulit hitam di AS untuk memperoleh hak-hak sipilnya. Tak dapat dimungkiri, mereka telah menjadi bagian dari kehidupan bangsa Amerika sejak hari-hari pertama kaum kulit putih Eropa memasuki Dunia Baru (AS).

Mereka memainkan peran vital dalam menaklukkan dan mengolah Dunia Baru. Namun, kedudukan mereka hanyalah warga kelas dua. Bahkan, seperti dicatat Blaustein dan Zangrando, sejak tahun 1619 kaum kulit hitam mengalami ironi. Status mereka justru turun, dari semula servant (pembantu) menjadi slave (budak) yang dapat diperjualbelikan.

Declaration of Independence (1776) yang mengakui kesetaraan manusia sebagai ciptaan Allah pun belum mampu menjamin hak-hak warga kulit hitam. Sekarang hak-hak itu memang makin terjamin. Namun, subdominasi tetap terjadi. Perasaan sebagai warga negara kelas dua terus menghantui.

Dalam situasi seperti itu, ”obamateks” (Obama sebagai wacana atau teks) hadir menyeruak. Latar belakang Obama sebenarnya tidak seperti umumnya kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Ayahnya, Barack Hussein Obama, datang ke AS bukan sebagai pelayan atau budak, tetapi sebagai mahasiswa yang dibiayai negaranya (Kenya). Namun, sulit dimungkiri, Obama merupakan teks nyata poskolonial. Obama menjadi ikon kemenangan—atau sekurangnya simbol kesetaraan—antara the colonized dan the colonizer.

”Obamateks” didukung fakta berharga. Obama menjadi pengalam (experiencer) berbagai situasi yang saling kontras. Dia merupakan internalis dari komunitas kulit putih AS, masyarakat kulit hitam AS, warga Kenya (Afrika), dan pernah tinggal di Indonesia (Asia). ”Obamateks” adalah teks yang kaya perspektif dan transenden.

Pernyataan ”Saya kangen nasi goreng, bakso, dan rambutan” yang dikemukakan kepada Presiden Yudhoyono dengan bahasa Indonesia yang fasih (Kompas, 26/11/2008), membuktikan kekayaan perspektif dan transendensi ”obamateks”.

Helen, dosen muda sebuah universitas swasta di Jakarta, dengan gembira berkisah di www. myrmnews.com. Pada Mei 2006, dia bertamu ke kantor Obama di Chicago. Sang Senator dengan ramah menyapa, ”O, ini dari Indonesia, ya?”.

Obama menggunakan bahasa secara cerdas dan bermartabat. Dengan ”obamalek” dan ”obamateks”, dia tidak bermaksud—menurut J Kristiadi dalam ”Iklan Politik dan Nasib Bangsa” (Kompas, 25/11/2008)—menyelimuti kekurangan, mengecoh, bahkan menyesatkan konsumennya.

Tanggal 20 Januari 2009, Obama dilantik menjadi presiden ke-44 negara adidaya AS. Semoga ”obamalek” dan ”obamateks” turut membangun tata dunia baru yang damai, sejahtera, dan memartabatkan semua orang. Juga menginspirasi para politisi di negeri ini.

P ARI SUBAGYO Penggulat Linguistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta