November 13, 2008...4:25 am

Janji Capres, Antara Retorika dan Program Kerja Nyata

Lompat ke Komentar

Capres Jangan Umbar Janji

Dikutip dari Seputar Indonesia Edisi Cetak Kamis, 13 Nopember 2008

SUKABUMI(SINDO) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta kepada para calon presiden (capres) untuk tidak memberikan janji-janji surga saat berkampanye. 

 

Presiden SBY berharap para calon pemimpin memberi penjelasan mengenai kebijakan yang akan mereka ambil. “Dalam memberikan penjelasan kepada rakyat, jangan terlalu memberikan angin surga, seolah-olah semua bisa selesai besok atau lusa, seolah-olah kemakmuran bisa kita wujudkan minggu depan,seolah-olah semua akan baik-baik saja,”kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berpidato pada acara panen raya padi hibrida beras prima di Kelurahan Situ Mekar, Kecamatan Lembur Situ, Sukabumi,kemarin.  

Presiden SBY menjelaskan, para calon pemimpin nasional mestinya memberikan penjelasan apa adanya perihal ikhtiar, program, kebijakan, dan langkah-langkah memimpin Indonesia di masa mendatang. “Silakan rakyat menilai masuk akal tidak program itu, benar tidak yang disampaikan itu. Rakyat kita sudah pintar,punya hati, pikiran,dan semuanya,” ujar Presiden SBY disambut riuh tepuk tangan para petani Sukabumi. 

Presiden SBY tidak hanya menyampaikan pesan ini kepada capres yang akan maju pada Pemilihan Presiden 2009.Pesan ini juga disampaikan kepada calon bupati,wali kota, dan gubernur yang berkontes dalam pemilihan kepala daerah. Dalam Pemilihan Presiden 2009 mendatang Presiden SBY termasuk salah satu kandidat yang disebut-sebut bakal ikut bersaing. 

Di samping Presiden SBY, kandidat lain yang muncul antara lain Megawati Soekarnoputri, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Sutiyoso,Prabowo Subianto,Wiranto, Rizal Ramli,Rizal Mallarangeng,dll. Dalam sehari kemarin, beberapa capres menggelar kegiatan dalam rangka pemantapan strategi menjelang persaingan 2009 nanti. 

Prabowo Subianto, misalnya, bertemu mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk meminta restu maju sebagai capres. Sutiyoso menggelar jumpa pers dengan menyatakan diri siap sebagai calon alternatif. Megawati Soekarnoputri tampil pada acara pemantapan dan pembekalan juru kampanye nasional PDIP di Jakarta.

Sementara itu, capres Sri Sultan Hamengku Buwono X menjanjikan perubahan signifikan bagi rakyat Indonesia jika dia terpilih menjadi presiden. Perubahan signifikan tersebut dimulai dengan mengubah konsep negara kontinental menjadi negara maritim, mengingat Indonesia didominasi perairan ketimbang daratan. 

“Kita terlalu menekankan strategi kontinental, hanya berorientasi pada daratan saja.Padahal kita negara maritim. Ini harus diubah ke depan,”kata Sultan saat berdiskusi di kantor redaksi SINDO di Jakarta kemarin. Hadir dalam diskusi tersebut Ketua Tim Pelangi Perubahan Sukardi Rinakit dan anggota tim, Franky Sahilatua. 

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ini menilai perubahan dimulai dengan mengamandemen kembali UUD 1945. Sultan mengaku memberanikan diri maju sebagai capres karena sudah tidak tahan menghadapi reformasi yang 10 tahun berjalan tidak menghasilkan perubahan signifikan. 

Karena itu, dia mengajak masyarakat Indonesia memilih pemimpin yang bicara Indonesia, yakni mengerti keadaan rakyat sehingga mampu membangun rasa keadilan dan kesejahteraan rakyat. Sultan mengatakan, mantan Presiden Soekarno merupakan “orang Jawa yang meng-Indonesia”, karena tidak berhasil membangun rasa adil bagi bangsanya, sehingga muncul pemberontakan PRRI Permesta. 

Di sisi lain dia pun menilai, mantan Presiden Soeharto juga “orang Jawa yang meng-Indonesia”, karena menerapkan pola sentralistik, tidak boleh beda, sehingga terjadi Jawanisasi. “Untuk tidak mengulang itu, carilah pemimpin yang namanya Indonesia,yang mengerti keadaan rakyat,membangun kerukunan bangsa, tidak membedakan satu sama lain, sehingga semua merasa terlindungi, terayomi, dan merasa diperlakukan adil,”lanjutnya. 

Pihaknya melihat banyak kebijakan yang tidak prorakyat dan menyebabkan kesulitan berkepanjangan dirasakan masyarakat Indonesia. Salah satu tokoh reformasi ini meminta seluruh masyarakat Indonesia mengubah paradigma mengenai globalisasi. Pasalnya, globalisasi ini telah mengubah civil society dan membuat kehidupan menjadi lebih baik. “Ketakutan bahwa globalisasi ini tidak spiritual lagi itu harus dihilangkan. Kita harus membuka diri,”katanya. 

Sultan menilai perubahan perlu dimulai oleh pemimpin dan pemerintah.Yang paling fundamental, konsistensi atas sistem presidensial yang dianut Indonesia harus bisa diejawantahkan dalam bentuk konkret, yaitu melahirkan kebijakan prorakyat. Untuk bisa mencapai itu, langkah yang harus diambil yaitu presiden dan wakil presiden tidak boleh lagi menjabat pimpinan parpol, termasuk para menteri di kabinet. 

Setelah itu Sukardi Rinakit memberi penjelasan. Tim yang dia pimpin kini sudah mengantongi 6.000 simpul sampai ke akar rumput untuk menyampaikan angin perubahan kepada rakyat Indonesia. Simpul ini bukan hanya di Yogyakarta, tapi juga di seluruh Indonesia— yang juga akan bergerak sampai ke seluruh pelosok negeri.

“Contoh di Pisowanan Agung beberapa waktu lalu, itu simpul jaringan yang bergerak. Jujur kami tidak punya uang, jadi siapa yang tidak mau ikut gerbong (perubahan) kita tinggal,” beber Sukardi. Sultan sudah diset untuk menjadi agen perubahan yang akan mengantarkan rakyat Indonesia memiliki harapan hidup lebih baik dalam periode kepemimpinannya. Sukardi menyatakan hal tersebut sudah terbukti di provinsi yang dipimpin Sultan. 

“Harapan hidup tertinggi ada di Yogya.Ini karena faktor kepemimpinan (Sultan). Indonesia juga akan dibawa ke sana,”tambahnya. Hal utama yang mendasar dalam perubahan itu, lanjut Sukardi,adalah menawarkan budaya politik baru dalam ranah perpolitikan nasional. Caranya, Sultan memulai kampanye dengan dukungan minim orang dan minim anggaran. 

Hal yang sudah dilakukan presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Barack Obama. “Kita mulai semuanya dengan transparan dan dari gerakan rakyat. Seperti Obama yang sudah membuktikan kesuksesannya,” contoh Sukardi. 

Sementara itu, Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri meminta seluruh calon legislatif dari partainya bekerja keras mengamankan keputusan partai yang mencalonkan dirinya sebagai capres. 

“Ini makanya kita adakan penataran dan pengarahan agar para calon legislatif sebagai juru kampanye tahu apa yang harus dikerjakan. Mereka tidak boleh berhenti bekerja di saat pemilu legislatif selesai,” kata Megawati di Jakarta kemarin. Mantan Presiden RI ini menegaskan, PDIP paling tidak bisa mengembalikan kemenangan yang pernah diraihnya saat Pemilu 1999. Tentu akan sangat baik jika perolehan suara bertambah. 

Meski tidak ada kalkulasi politik jika menang di legislatif akan menang juga di pemilu presiden, Mega tetap yakin kemenangan legislatif akan memudahkan dirinya menjadi presiden. 

“Karena rasionalnya begitu. Jika legislatif menang, presiden juga menang.Harus bekerja sama, para calon anggota legislatif sebagai juru kampanye tidak (boleh) hanya memaksimalkan dirinya sendiri,tetapi juga mengangkat capres yang diangkat oleh partai,”ungkap Mega. (toni kamajaya/ rahmat sahid/ rd kandi/ahmad baidowi)

Menurut gue :

Betul, Pak SBY. Janji2 capres harus disertai program2 yang jelas, jangan cuma retorika2 belaka.
Sri Sultan, saya mendukung Anda menjadi Presiden RI berikutnya. Please jangan kecewakan saya dan rakyat yang mendukung Anda. O iya, Sultan kalau panjenengan berkenan, saya usulkan Sultan menggandeng Fadel Muhammad sebagai Cawapres, mengingat kapasitasnya sudah terbukti menyejahterakan rakyat Gorontalo. Kami ini wong cilik tapi kami juga pengen banget jadi wong gedhe. Begitu…

Tinggalkan Balasan