November 19, 2008...6:50 pm

Sekolah Itu Membosankan !

Lompat ke Komentar

43 Siswa Terjaring Razia

Satu Kedapatan Membawa Senjata Tajam
KOMPAS/SIWI NURBIAJANTI / Kompas Images 
Seorang petugas dari Badan Narkotika Kota (BNK) Palembang memeriksa tas siswa di SMKN 2 Palembang, Selasa (18/11). Razia narkoba dilaksanakan oleh tim gabungan dari BNK, Kepolisian Kota Besar, Satuan Polisi Pamong Praja, dan Dinas Pendidikan Kota Palembang. Razia itu merupakan bentuk terapi kepada siswa.

Dikutip dari Kompas Cetak Rabu, 19 November 2008 | 03:00 WIB

Palembang, Kompas – Sebanyak 43 siswa SLTP dan SLTA di Palembang terjaring razia yang diselenggarakan tim gabungan Badan Narkotika Kota atau BNK, Kepolisian Kota Besar, Satuan Polisi Pamong Praja, dan Dinas Pendidikan Kota Palembang, Selasa (18/11). Satu di antaranya kedapatan membawa pisau.

Razia dilaksanakan pada dua tempat biliar di Jalan M Isa serta di SMK Negeri 2 Palembang. Salah seorang dari 43 siswa yang dirazia di tempat hiburan pada jam sekolah adalah perempuan.

Seluruh siswa yang kena razia berasal dari SMKN, SMP 53, SMK Telematika, SMA Sumsel Jaya, SMP Setia Negara, SMK Methodist I, SMA Mandiri, SMA Tri Budi Mulia, dan SMP Mandiri Palembang. Seorang siswa kedapatan membawa pisau di dalam tasnya saat berlangsung razia di SMK Negeri 2.

Ketua Pelaksana Harian BNK Palembang Zailani Ujang Dani, Selasa (18/11), mengatakan, razia dilakukan terhadap siswa yang kedapatan membolos sekolah. Razia juga dilaksanakan di dalam kelas untuk mencari kemungkinan adanya siswa yang membawa narkoba, senjata tajam, maupun benda-benda pornografi.

Hal tersebut dilakukan karena saat ini peredaran narkoba di Palembang sudah meluas. Selama Januari hingga Oktober 2008, kasus penyalahgunaan narkoba yang terungkap sebanyak 195 kasus. Sebagian besar pelaku penyalahgunaan narkoba berusia di bawah 30 tahun, beberapa di antaranya pelajar.

Sebagai terapi

Razia dilaksanakan selama tiga hari, mulai Senin lalu. Menurut Zailani, razia dimaksudkan sebagai terapi kepada siswa agar tidak mencoba melakukan perbuatan negatif. ”Pelajar secara psikologis merupakan titik rawan karena jiwa mudanya selalu ingin coba-coba,” ujarnya.

Dari hasil razia tidak ditemukan siswa yang membawa narkoba. Namun, sehari sebelumnya sempat ditemukan siswa yang membawa kondom.

Para siswa yang terjaring razia selanjutnya dibawa ke BNK untuk diberi pengarahan. Mereka diperbolehkan pulang setelah mendapat jaminan dari guru. Siswa yang membawa pisau dibawa ke Poltabes Palembang. ”Siswa dibawa ke Poltabes karena membawa senjata tajam merupakan pelanggaran undang-undang pidana,” kata Zailani.

Wakil Kepala Urusan Kesiswaan SMKN 2 Palembang Malizon mengaku mendukung upaya tersebut. Hal tersebut dalam rangka membina mental dan sikap anak didik.

Selama ini SMKN 2 juga selalu mengadakan razia secara rutin, meliputi atribut dan rambut. Siswa laki-laki yang berambut panjang akan mendapat sanksi langsung dari guru. ”Sanksinya potong di tempat,” ujarnya.

Menurut Malizon, jumlah siswa di SMKN 2 sebanyak 1.700 siswa, 28 di antaranya perempuan. SMK tersebut memiliki enam program keahlian, yaitu teknik survei jaringan, teknik gambar bangunan, pemanfaatan tenaga listrik, mekanik otomotif, teknik komputer jaringan, dan mekanik elektronik. (WIE)

Gue bilang :

Aku nggak mbelain temen2 yang memilih untuk mbolos sekolah, tapi aku pengen melihat masalah dari sudut pandang mereka, para siswa yang membolos. Biasanya kan semua nyalahin mereka, dibilangnya malas lah, bodoh lah, dll lah, ini lah itu lah. Pokoknya semua stigma yang buruk pasti melekat di diri siswa2 yang tukang bolos. Siswa2 ini dihukum karena membolos, sesuatu yang mereka merasa enjoy melakukannya. Menurut aku, mereka nggak terlalu salah juga. Pendidikan saat ini menurutku emang membosankan banget. Bayangkan saja, ketika ditanyakan kepada para murid, mayoritas mereka -mungkin sampai 90% lebih- akan mengatakan senang kalau sekolah libur atau pulang lebih awal. Apa nggak seharusnya itu membuat kita berkaca, introspeksi diri, apakah benar sekolah sudah terlalu membebani atau membosankan bagi para murid sampai2 mereka tidak enjoy belajar di sekolahan?

Seorang Guru pernah berkata, “Lakukanlah apa yang kamu suka, nikmatilah, dan kamu akan menuai hasilnya.” Dalam memilih pekerjaan, bukankah itu patokan kita yang sudah dewasa? Bukankah besarnya gaji seringkali menjadi pertimbangan nomor dua ketika kita lebih bisa melihat nyaman tidaknya suasana di lingkungan pekerjaan, bos yang sok, dll? Sama dengan para murid itu. Bagi mereka, mungkin belajar secara teori di sekolahan dengan cara yang membosankan dirasa sangat tidak menyenangkan. Mereka lalu memilih untuk belajar bersosialisasi langsung di luar, di tempat di mana para orang dewasa tidak memandangnya sebagai tempat belajar. Ah, konyol. Ini adalah dunia nyata, dunia tempat kita belajar. Tapi kenapa orang seringkali harus dikungkung dulu di dalam tembok sekolah untuk belajar teori sebelum praktek di dunia nyata?

Dik Doank mungkin lebih mengerti hal ini. Dia orang yang paham bahwa belajar seharusnya menyenangkan, dan belajar teori bisa lebih menyenangkan kalau langsung dipraktekkan di dunia nyata. Di sekolah yang dia bikin, Dik Doank memang lebih melibatkan anak2 belajar secara riil di lapangan. Bukankah bermain adalah cara kita sejak kecil untuk belajar berbagai macam keterampilan yang sekarang kita kuasai?

Menjadi mengherankan ketika kita secara alamiah belajar dengan cara bermain, lalu ketika kita beranjak dewasa kita dituntut untuk belajar dengan cara membaca. Oke, mungkin beberapa orang memang diciptakan dengan kemampuan verbal yang bagus sehingga mereka merasa cocok belajar dengan cara membaca. Tapi bukankah apa yang kita pelajari secara teoretis melalui buku itu sama sekali tak ada gunanya kalau kita tidak mempraktekkannya di dunia nyata? Mengapa kita tidak mengubah sistem pendidikan kita menjadi sistem pendidikan bermain yang menyenangkan? Bermain dengan cahaya misalnya, rasanya lebih menarik ketimbang membaca dan menggambar garis2 sinar yang dipantulkan atau dibiaskan melalui cermin atau lensa fiktif di atas kertas. Belajar secara praktek dengan cara bermain akan meningkatkan faktor WOW dan AHA seperti yang dibilang oleh Tanadi Santosa. Ketika anak didik diperkenalkan pada suatu hal baru, mereka akan cenderung heran, nggumun, dan tertarik. Mereka bilang, WOW…. Lalu, ketika mereka dipancing, diajak untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik sesuatu yang WOW itu, pada suatu titik mereka akan menemukan pelajaran2 penting yang membuat mereka merasa hebat karena sudah memecahkan suatu misteri ilmu pengetahuan dengan cara mereka sendiri. Saat itulah mereka akan berujar, AHA !

Eniwei, nampaknya perlu orang2 yang kreatif dan berhati besar untuk mau berubah. Sayangnya, kadangkala orang sudah terjebak dalam tradisi masa lalu, termasuk juga dalam bidang pendidikan. Kita butuh orang2 dengan paradigma baru, cara berpikir yang tidak umum, yang unik, yang kreatif dan mungkin sedikit gila. Kita butuh orang2 yang sudah mengalami pencerahan untuk membangkitkan ketertarikan para siswa untuk lebih tertarik lagi belajar berbagai macam hal. Kita butuh orang2 yang hebat yang bisa membangkitkan kreativitas para siswa untuk bisa mempunyai wawasan yang luas, mengembangkan wacana2 yang sama sekali baru dan tak pernah terpikirkan oleh para guru yang sudah uzur. Kita butuh orang2 besar untuk membuat bangsa kita menjadi bangsa yang berpikir, yang kreatif dan yang suka belajar hal2 baru. Suatu kesempatan untuk menjadi bangsa yang besar sudah berada di depan mata kita. Andakah orangnya yang mau ambil bagian dalam upaya pembangkitan kreativitas siswa saat ini? Atau jangan2, anda termasuk orang yang bikin para siswa lebih senang membolos daripada belajar di sekolah? Hehehe…

Duh iya, ada yang kelupaan. Soal sanksi untuk rambut gondrong. Seringkali kita orang dewasa merasa diri kita mempunyai hak untuk menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, dan ini seringkali membuat kita merasa diri sebagai Tuhan atas sesama, termasuk atas anak didik. Rambut gondrong nggak boleh, kuku panjang nggak boleh, rambut disemir nggak boleh, kaos kaki selain putih nggak boleh, baju kudu seragam, dll. Bukankah itu merupakan bentuk pemasungan kreativitas anak? Pernahkah kita berpikir bahwa kita seringkali menetapkan aturan2 konyol seperti itu? Bayangkan seandainya sejak sekolah kita terbiasa untuk tampil modis, bukankah itu kesempatan bagi kita untuk mengajari anak didik untuk melihat peluang bekerja atau mengembangkan usaha sendiri sebagai penata mode, atau desainer atau hair stylist? Konyol kan kalau kita tidak mendorong mereka untuk menemukan bidang2 baru tempat mereka kelak bisa berkarya semaksimal mungkin dalam bidang yang mereka sukai? Ah, kayaknya susah deh. Wong gurunya aja jadi guru juga cuman karena terpaksa alias karena nggak ketrima kuliah di fakultas yang eksak. Hehe… 

Eniwei, kata orang anak itu kayak kertas putih yang tergantung pada kita mau kita tulisi apa, kita coret2 atau kita cemong2 gak keruan juga terserah kita. Konyol la… Menurut aku, anak adalah sebuah potensi mahabesar yang bisa bertumbuh menjadi apapun yang mereka inginkan dalam bidang apapun bahkan dalam bidang yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. Buat para guru, ini tantangan buat kalian. Munculkanlah potensi maksimal dari anak didik Anda, apapun itu. Tak ada yang lebih membanggakan daripada melihat anak kita mencapai suksesnya di panggungnya masing2.

Haduh, kenapa aku terdengar lebih pinter daripada para guru ya? Hehehe… Nggak ah, ntar malah aku ditawari oleh Capres buat jadi Camendiknas. Hehehe… Mau jadi apa negara ini kalo mendiknasnya adalah pengusaha yang drop out kuliah? Hehehe…

Pendidikan adalah suatu hal yang luar biasa. Akankan kita menjadikannya sebagai sebuah roket pendorong bagi anak2 kita untuk meraih potensi maksimal mereka, ataukah kita akan menjadikannya penjara yang mengisolasi mereka dari dunia nyata dan membelenggu kreativitas serta potensi mereka yang luar biasa? Semuanya terserah pada keputusan kita pagi hari nanti…

1 Tanggapan

  • Aku seorang guru, dan aku mengerti jika pendidikan yang ada disekolah itu tidak baik. Tetapi sebagian besar guru seperti aku ini tidak dapat berbuat banyak disekolahku. Itu semua karena kurikulum yang terlalu mengekang. Tidak membebaskan guru melakukan inovasi. Kalaupun ada inovasi, itu sebatas garis lurus yang tidak pernah bercabang. Kadang aku ingin lari dari ini tapi aku tak mungkin meninggalkannya….? Ayo teman kita buat pendidikan yang nyaman, aman………………….


Tinggalkan Balasan